Jumat, 05 Oktober 2012

MANAJEMEN DAHULU DAN SEKARANG


Pengantar Manajemen

MANAJEMEN DAHULU DAN SEKARANG

OLEH :
Yulia Dwi Karti                            A11112904
A. Isramiarsyh                              A21112117
Nurul Rahmi Palangkey              A21112279
Andi Fachrur Rijal                       A31112291
Fahriansyah                                  A31112901



FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012/2013


KATA PENGANTAR
Tak ada kata yang patut terucap selain puji syukur kepada Allah SWT. Atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga makalah dengan judul “Manajemen Dahulu dan Sekarang” dapat disusun dan diselesaikan sesuai dengan yang telah direncanakan. Shalawat dan salam senantiasa pula  tercurahkan kepada Baginda Rasulullah Saw.
Terima kasih pula kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga bermanfaat bagi para pembaca dan penulis.
Kami menyadari bahwa sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, tentu hal ini tidak mungkin luput dari kekurangan. Dengan upaya dan semangat peningkatan ilmu pengetahuan  kami senantiasa mengharapkan kontribusi pemikiran dari para pembaca, baik berupa kritikan ataupun saran agar dapat kami jadikan pelajaran untuk kedepannya dalam membuat makalah.

           Makassar, 17 September 2012

Penulis,







BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Ilmu manajemen sebetulnya sama usianya dengan kehidupan manusia, mengapa demikian karena pada dasarnya manusia dalam kehidupan sehari – harinya tidak bisa terlepas dari prinsip – prinsip manajemen. Baik langsung maupun tidak langsung, baik disadari ataupun tidak disadari manusia menggunakan prinsip – prinsip dari manajemen. Ilmu manajemen ilmiah tumbuh pada sekitar awal abad ke – 20 di benua Eropa Barat dan Amerika. Dimana di negara – negara tersebut sedang dilanda revolusi yang dikenal dengan nama revolusi industri, yaitu perubahan – perubahan dalam pengeloalaan produksi yang efektif dan efisien. Hal ini dikarenakan masyarakat sudah semakin maju dan kebutuhan manusia sudah semakin banyak dan beragam jenisnya.

Usaha keras Mattel untuk tampil ke depan dengan sesuatu yang inovatif untuk pasar bukanlah sesuatu yang luar biasa sekarang ini. Banyak organisasi lainnya baik besar dan kecil telah melakukan komitmen serupa untuk melakukan inovasi dengan segala tantangan dan penghargaannya. Mengapa? Persaingan global dan tekanan persaingan umum mencerminkan kenyataan sekarang ini: berinovasi atau kalah. Walaupun Ivy Rose inovatif dalam mengilhami para karyawannya untuk memikirkan permainan baru ini, ia menyadari bahwa tidak selalu mudah untuk menerapkan ide – ide baru. Kenyataannya, sejarah manajemen dipenuhi dengan evolusi dan revolusi dalam menerapkan ide baru.

Melihat sejarah manajemen dapat membantu kita memahami teori dan praktik manajemen sekarang ini.sejarah manajemen dapat membantu kita untuk melihat apayang berhasil dan yang tidak. Dalam materi kali ini, kami akan membahas tentang asal usul dari berbagai konsep manajemen kontemporer dan menunjukkan bagaimana konsep tersebut berkembang yang mencerminkan perubahan kebutuhan organisasi dan masyarakat secara keseluruhan. Kami juga akan membahas kecenderungan dan masalah yang penting yang sering dihadapi manajer sekarang, untuk menghubungkan masa lalu dengan masa depan dan memperlihatkan bahwa bidang manajemen masih terus berkembang.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan judul dan latar belakang di atas, kami akan mengangkat rumusan masalah yaitu, bagaimana manajemen dahulu dan sekarang.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Latar Belakang Sejarah Manejemen
Usaha – usaha terorganisasi yang diarahkan oleh orang – orang yang bertanggung jawab atas perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian telah ada ribuan tahun. Piramida di Mesir dan Tembok Besar Cina merupakan bukti nyata bahwa proyek – proyek yang ukurannya luar biasa besar, yang menggunakan puluhan ribu manusia, telah dilaksanakan jauh sebelum zaman modern. Piramida merupakan contoh yang sangat menarik. Pembangunan sebuah piramida melibatkan lebih dari 100.000 orang selama 20 tahun. Siapa yang memberitahu masing – masing pekerja apa yang harus dilakukannya? Siapa yang menjamin bahwa akan ada cukup batu di tempat itu supaya para pekerja tetap sibuk? Jawaban terhadap pertanyaan – pertanyaan itu adalah manajer. Tanpa mempedulikan apa sebutan bagi para manajer pada saat itu, seseorang harus merencanakan apa yang perlu dilakukan, mengorganisasikan manusia serta bahan baku untuk melakukannya, memimpin dan mengarahkan para pekerja, dan menegakkan pengendalian tertentu guna menjamin bahwa segala sesuatunya dikerjakan menurut rencana.

Praktik – praktik manajemen lainnya dapat disaksikan selama tahun 1400-an di kota Venesi, Italia, pusat perekonomian dan perdagangan yang penting. Penduduk Venesia mengembangkan bentuk awal perusahaan bisnis dan melakukan banyak kegiatan yang lazim terjadi di organisasi saat ini. Sebagai contoh, di gudang senjata Venesia, kapal perang diluncurkan ke sepanjang kanal dan pada tiap – tiap perhentian bahan baku dan tali layar kapal ditambahkan ke kapal tersebut. Bukankah itu sangat mirip dengan mobil yang ‘meluncur’ ke sepanjang lini perakitan mobil dan sejumlah komponen terus ditambahkan ke mobil tersebut? Selain lini perakitan tersebut, orang venesia memiliki sistem penyimpanan dan pergudangan untuk memantau isinya, manajemen sumber daya manusia yang berfungsi untuk mengelola angkatan kerja, dan sistem akuntansi untuk melacak pendapatan dan biaya.

Contoh – contoh dari masa lalu itu memperlihatkan bahwa organisasi telah ada selama ribuan tahun. Akan tetapi, dua peristiwa sebelum abad ke-20 memainkan peran yang sangat penting dalam memajukan kajian manajemen.

Pertama, pada tahun 1776, Adam Smith menerbitkan sebuah doktrin ekonomi klasik, The Wealth of Nations, di mana dia mengemukakan keunggulan ekonomis yang akan diperoleh organisasi dan masyarakat dari pembagian kerja (Division of Labour), perincian pekerjaan kedalam tugas – tugas yang spesifik dan berulang. Dengan menggunakan industri pabrik peniti sebagai contoh, Adam Smith mengatakan bahwa sepuluh orang, masing – masing melakukan pekerjaan khusus, secara bersama – sama dapat menghasilkan kurang lebih 48.000 peniti dalam satu hari. Akan tetapi, jika setiap orang bekerja sendiri menyelesaikan tiap –tiap bagian pekerjaan, sudah sangat hebat bila mereka mampu menghasilkan sepuluh peniti saja dalam sehari! Smith menyimpulkan bahwa pembagian kerja itu meningkatkan produktivitas dengan meningkatkan keterampilan dan kecekatan tiap – tiap pekerja, dengan menghemat waktu yang lazimnya hilang dalam pergantian tugas – tugas, dan dengan menciptakan sejumlah mesin dan penemuan yang menghemat tenaga kerja. Tetap populernya spesialisasi pekerjaan misalnya, tugas – tugas spesifik  yang dilakukan oleh para pekerja di dapur restoran, atau posisi – posisi spesifik yang dilakukan oleh para pemain tim sepak bola tidak diragukan lagi disebabkan oleh keunggulan ekonomis, yang dikemukakan oleh Adam Smith.
 Pengaruh penting kedua yang berpengaruh terhadap manajemen adalah Revolusi Industri. Revolusi yang diawali pada abad ke-18 di Inggris itu melintasi Atlantik menuju Amerika pada akhir Perang Saudara. Sumbangan penting revolusi Industri adalah tenaga mesin dengan cepat menggantikan tenaga manusia yang pada gilirannya, membuat lebih hemat jika memproduksi barang – barang di pabrik, bukannya di rumah. Pabrik – pabrik yang besar dan efisien ini membutuhkan kemampuan manajerial. Mengapa? Para manajer dibutuhkan untuk meramalkan permintaan, memastikan bahan baku cukup banyak tersedia untuk membuat produk, memberi tugas kepada orang – orang, mengarahkan kegiatan sehari – hari, dan selanjutnya. Kebutuhan akan teori formal untuk membimbing manajer dalam menjalankan organisasi itu telah tiba. Namun, teori formal itu belum ada sampai awal tahun 1900-an di mana langkah besar pertama untuk menyusun teori semacam itu diambil.

2.2 Manajemen Ilmiah
Manajemen ilmiah, atau dalam bahasa Inggris disebut scientific management, pertama kali dipopulerkan oleh Frederick Winslow Taylor dalam bukunya yang berjudul Principles of Scientific Management pada tahun 1911. Dalam bukunya itu, Taylor mendeskripsikan manajemen ilmiah adalah "penggunaan metode ilmiah untuk menentukan cara terbaik dalam menyelesaikan suatu pekerjaan." Beberapa penulis seperti Stephen Robbins menganggap tahun terbitnya buku ini sebagai tahun lahirya teori manajemen modern.

Ide tentang penggunaan metode ilmiah muncul ketika Taylor merasa kurang puas dengan ketidakefesienan pekerja di perusahaannya. Ketidakefesienan itu muncul karena mereka menggunakan berbagai macam teknik yang berbeda untuk pekerjaan yang sama—nyaris tak ada standar kerja di sana. Selain itu, para pekerja cenderung menganggap gampang pekerjaannya. Taylor berpendapat bahwa hasil dari para pekerja itu hanyalah sepertiga dari yang seharusnya. Taylor kemudian, selama 20 tahun, berusaha keras mengoreksi keadaan tersebut dengan menerapkan metode ilmiah untuk menemukan sebuah "teknik paling baik" dalam menyelesaikan tiap-tiap pekerjaan.

Berdasarkan pengalamannya itu, Taylor membuat sebuah pedoman yang jelas tentang cara meningkatkan efesiensi produksi. Pedoman tersebut adalah:
1.    Kembangkanlah suatu ilmu bagi tiap-tiap unsur pekerjaan seseorang, yang akan menggantikan metode lama yang bersifat untung-untungan.
2.    Secara ilmiah, pilihlah dan kemudian latihlah, ajarilah, atau kembangkanlah pekerja tersebut.
3.    Bekerja samalah secara sungguh-sungguh dengan para pekerja untuk menjamin bahwa semua pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip ilmu yang telah dikembangkan tadi.
4.    Bagilah pekerjaan dan tanggung jawab secara hampir merata antara manajemen dan para pekerja. Manajemen mengambil alih semua pekerjaan yang lebih sesuai baginya daripada bagi para pekerja.

Pedoman ini mengubah drastis pola pikir manajemen ketika itu. Jika sebelumnya pekerja memilih sendiri pekerjaan mereka dan melatih diri semampu mereka, Taylor mengusulkan manajemenlah yang harus memilihkan pekerjaan dan melatihnya. Manajemen juga disarankan untuk mengambil alih pekerjaan yang tidak sesuai dengan pekerja, terutama bagian perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengontrolan. Hal ini berbeda dengan pemikiran sebelumnya di mana pekerjalah yang melakukan tugas tersebut.

Manajemen ilmiah kemudian dikembangkan lebih jauh oleh pasangan suami-istri Frank dan Lillian Gilbreth. Keduanya tertarik dengan ide Taylor setelah mendengarkan ceramahnya pada sebuah pertemuan profesional.

Keluarga Gilbreth berhasil menciptakan mikronometer yang dapat mencatat setiap gerakan yang dilakukan oleh pekerja dan lamanya waktu yang dihabiskan untuk melakukan setiap gerakan tersebut. Gerakan yang sia-sia yang luput dari pengamatan mata telanjang dapat diidentifikasi dengan alat ini, untuk kemudian dihilangkan. Keluarga Gilbreth juga menyusun skema klasifikasi untuk memberi nama tujuh belas gerakan tangan dasar (seperti mencari, menggenggam, memegang) yang mereka sebut Therbligs (dari nama keluarga mereka, Gilbreth, yang dieja terbalik dengan huruf th tetap). Skema tersebut memungkinkan keluarga Gilbreth menganalisis cara yang lebih tepat dari unsur-unsur setiap gerakan tangan pekerja.

Skema itu mereka dapatkan dari pengamatan mereka terhadap cara penyusunan batu bata. Sebelumnya, Frank yang bekerja sebagai kontraktor bangunan menemukan bahwa seorang pekerja melakukan 18 gerakan untuk memasang batu bata untuk eksterior dan 18 gerakan juga untuk interior. Melalui penelitian, ia menghilangkan gerakan-gerakan yang tidak perlu sehingga gerakan yang diperlukan untuk memasang batu bata eksterior berkurang dari 18 gerakan menjadi 5 gerakan. Sementara untuk batu bata interior, ia mengurangi secara drastis dari 18 gerakan hingga menjadi 2 gerakan saja. Dengan menggunakan teknik-teknik Gilbreth, tukang baku dapat lebih produktif dan berkurang kelelahannya di penghujung hari.

Pedoman yang ditemukan oleh Taylor dan yang lainnya untuk meningkatkan efisiensi produksi masih tetap digunakan dalam organisasi di masa kini. Ketika para manajer menganalisis tugas – tugas dasara yang harus dilakukan, menggunakan studi waktu dan gerakan untuk menghilangkan gerakan yang sia – sia, mempekerjakan para pekerja terbaik yang memenuhi persyaratan untuk suatu pekerjaan, dan merancang sistem insentif berdasarkan output , mereka menggunakan prinsip – prinsip manajemen ilmiah. Tetapi , praktik manajemen terkini tidak hanya terbatas pada pendekatan manajemen ilmiah. Dalam kenyataannya, kita dapat melihat gagasan dari pendekatan utama berikutnya, teori administrasi umum yang juga digunakan.

2.3 Para Ahli Teori Administrasi Umum
Kelompok penulis lain memandang pokok bahasan manajemen, tetapi memusatkan perhatian pada organisasi secara keseluruhan. Kita menyebut mereka itu ahli teori administrasi umum. Mereka mengembangkan teori – teori yang lebih umum mengenai apa yang dilakukan para manajer dan apa yang membentuk praktik manajemen yang baik. Dua ahli terkemuka di balik pendekatan administrasi umum adalah Henri Fayol dan Max Weber.

Teori administrasi dipelopori oleh Henri Fayol, fayol mengemukakan bahwa kegiatan industri dibagi kedalam kegiatan teknis, komersial, finansial, keamanan, personalia, akuntansi, dan manejerial ( perencanaan, pengorganisasian, pemberian perintah pengkoordinasikan dan pengawasan.

Selanjutnya Fayol membahas tantang 14 kaidah / prinsip manajemen yaitu:
1.        Pembagian kerja atau spesialisasi meningkatkan produktifitas karena orang memusatkan perhatian pada pekerjaan sesuai dengan keahlian.
2.        Wewenang dan tanggung jawab harus ada dalam pelaksanaan kegiatan. Perlu ada rangsangan untuk kegiatan yang dilaksanakan dengan baik dan sanksi bagi pelaksanaan kegiatan yang tidak baik.
3.        Harus ada disiplin, yaitu rasa hormat da taat pada peranan da tujuan organisasi.
4.        Perlu kesatuan perintah. Bawahan hanya menerima perinyah dan bertanggung jaeab pada satu atasan.
5.        Perlu adanya kesatuan pengarahan. Organisasi efekti bila para anggota bekerja sama berdasarkan tujuan yang sama.
6.        Para anggota organisasi harus mendahulukan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi.
7.        Pambayaran balas jasa harus bijaksana, adil, tidak eksploitatif dan memuaskan pihak-pihak.
8.        Perlu diatur keseimbangan antara sentralisasi dan desentralisasi.
9.        Hubungan antar tugas disusun atas dasar suatu hierarki atas bawah.
10.    Harus ada order, aturan, ketertiban dimana ada suatu tamtpat untuk setiap orang yang seharusnya memang tempatnya.
11.    Keadilan bagi personalia, persamaan perlakuan dalam organisasi.
12.    Perlu kelangsungan, keamanan dan kepastian kerja bagi karyawan.
13.    Dalam setiap tugas harus dimungkinkan untuk mengadakan prakarsa atau inisiatif.
14.    Harus ada semangat korps menggalang kekuatan dengan persatuan atau kesetiakawanan, kebanggaan bersama dan merasa memiliki.

Max Weber (186,41920) pionir terkemuka pengembangan teori birokrasi. Dimana birokrati merupakan ciri dari pola organisasi yang strukturnya dibuat sedemikian rupa sehingga secara maksimal dapat memanfaatkan tenaga ahli,- Organisasi harus diatur secara rasional, impersonal dan bebas dari sikap prasangka.

Karektiristik birokrasi ditandai dengan:
1.    Adanya pembagian tugas dan spesialisasi. Setiap individu dalam oganisasi mempunyai wewenang yang diatur oleh berbagai peraturan, kebijakan dan ketetapan hukum.
2.    Hubungan yang terjadi dalam organisasi adalah hubungan impersonal.
3.    Dalam organisasi ada hierarki wewenang, yaitu setiap bagian yang lebih rendah selalu berada di bawah wewenang dan supervisi dari bagian di atasnya.
4.    Administrasi selalu didasarkan dan dilaksanakan dengan dokumen tertulis.
5.    Orientasi pembinaan pegawai adalah pengembangan karir, yang berarti keahlian menupakan kriteria utama diterima tidaknya seseorang sebagai anggota organisasi dan promosi dalam organisasi.
6.    Setiap tindakan yang diambil organisasi harus selalu dikaitkan dengan besarnya sumbangan terhadap pencapaian tujuan organisasi, sehingga dapat dicapai efisien, yang maksimal. Birokrasi meupakan usaha untuk menghilangkan tradisi organisasi yang membuat keputusan secara emosional, atau berdasarkan ikatan kekeluargaan sehingga mengakibatkan organisasi tidak efektif. Birokrasi ada hubungannya dengan prosedur yang berbelit-belit, penundaan pekerjaan, ketidak efisienan, dan pemborosan.

Sejumlah gagasan dan praktik manajemen kita sekarang ini dapat secara langsung diketahui sebagai sumbangan para ahli teori administrasi umum. Sebagai contoh, pandangan fungsional tentang pekerjaan manajer dapat dianggap berasal dari Henri Fayol. Sebagai tambahan, keempat belas prinsip Fayol itu berperan sebagai kerangka acuan tempat berkembangnya banyak konsep dan teori manajemen sekarang.

2.4 Pendekatan Kuantitatif Pada Manajemen
Pendekatan kuantitatif adalah penggunaan sejumlah teknik kuantitatif —seperti statistik, model optimasi, model informasi, atau simulasi komputer—untuk membantu manajemen mengambil keputusan. Sebagai contoh, pemrograman linear digunakan para manajer untuk membantu mengambil kebijakan pengalokasian sumber daya; analisis jalur kritis (Critical Path Analysis) dapat digunakan untuk membuat penjadwalan kerja yang lebih efesien; model kuantitas pesanan ekonomi (economic order quantity model) membantu manajer menentukan tingkat persediaan optimum dan lain-lain.

Pengembangan kuantitatif muncul dari pengembangan solusi matematika dan statistik terhadap masalah militer selama Perang Dunia II. Setelah perang berakhir, teknik-teknik matematika dan statistika yang digunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan militer itu diterapkan di sektor bisnis. Pelopornya adalah sekelompok perwira militer yang dijuluki "Whiz Kids." Para perwira yang bergabung dengan Ford Motor Company pada pertengahan 1940-an ini menggunakan metode statistik dan model kuantitatif untuk memperbaiki pengambilan keputusan di Ford.

Pendekatan kuantitatif secara langsung telah memberikan sumbangan pada pengelolaan pengambilan keputusan di bidang perencanaan dan pengendalian. Sebagai contoh, ketika manajer membuat penganggaran, penjadwalan, pengendalian mutu, dan keputusan serupa, mereka biasanya bergantung pada teknik kuantitatif . ketersedian Software komputer yang canggih untuk membantu menyusun model, persamaan, dan rumus telah membuat penggunaan teknik kuantitatif menjadi tidak terlalu menakutkan bagi para manajer, walaupun mereka harus tetap mampu menafsirkan hasilnya.

2.5 Menuju Pemahaman Tentang Perilaku Organisasi
          Meskipun ada sejumlah orang pada akhir 1800-an dan awal 1900-an yang menyadari bahwa pentingnya faktor manusia bagi keberhasilan organisasi, ada empat orang yang menonjol sebgai pendukung awal pendekatan perilaku organisasi tersebut. Ide mereka menjadi dasar praktik manajemen, seperti prosedur seleksi karyawan, program motivasi karyawan, tim kerja karyawan, dan organisasi teknik manajemen lingkungan eksternal.
           
Tanpa ragu – ragu, sumbangan paling penting bagi pengembangan bidang perilaku organisasi itu datang dari Kajian Hawthorne,  sekelompok kajian yang diselenggarakan pada Western Electric Company Works di Cicero, Illinois.

Namun, kesimpulan kajian ini bukanlah tanpa kritik. Kritik menyerang prosedur riset, analisi temuan, dan kesimpulannya. Akan tetapi, dari sudut pandang sejarah, tidaklah begitu penting apakah kajian itu secara akademis sehat atau kesimpulannya dapat dibenarkan. Yang penting adalah bahwa kajian itu merangsang minat terhadap perilaku manusia dalam organisasi. Kajian ini memainkan peran yang sangat penting dalam mengubah pandangan yang dominan pada waktu itu yakni karyawan itu berbeda dari mesin – mesin lain manapun juga yang digunakan oleh organisasi tersebut.

Pendekatan perilaku telah banyak membentuk organisasi kontemporer sekarang ini. Dari cara manajer merancang pekerjaan yang mampu memberi motivasi sampai ke cara mereka bekerja dengan tim karyawan sampai ke cara mereka membuka saluran komunikasi, kita dapat melihat sejumlah elemen pendekatan perilaku. Banyak dari apa yang diusulkan OB awal dan kesimpulan dari studi Hawthorne menjadi dasar bagi teori terkini tentang motivasi, kepemimpinan, perilaku, dan pengembangan kelompok, dan berbagai topik perilaku lainnya.

2.6 Pendekatan Sistem
sistem memiliki dua jenis, yaitu sitem tertutup dan sistem terbuka.  Sistem terutup tidak terpengaruh oleh lingkungan luar sedangkan sistem terbuka dinamis berkomunikasi dengan dunia luar. Pendekatan sistem turut menunjang pada pemahaman kita tentang pemikiran manajemen. Para peneliti sistem memimpikan suatu organisasi terdiri dari faktor yang saling bergantung, termasuk perseorangan, kelompok, sikap, motif, struktur formal, interaksi, tujuan, status dan wewenang. Hal ini berarti manajer mengoordinasikan kegiatan kerja dari berbagai bagian dalam organisasi dan memastikan bahwa semua bagian organisasi yang saling tergantung bekerja sama sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Selain itu, pendekatan sistem menunjukkan bahwa organisasi tidaklah berdiri sendiri. Mereka bergantung pada lingkungannya untuk masukan yang penting dan sebagai sumber untuk menyerap hasilnya.

2.7. Pendekatan Kontingensi
Pendekatan kontingensi disebut kadangkala sebagai pendekatan situsional mengatakan bahwa organisasi adalah berbeda, menghadapi situasi yang berbeda dan memerlukan cara pengelolaan yang berbeda.

   Pendekatan kontingensi bagi manajemen adalah secara intuisi logis karena organisasi dan bahkan unit di dalamnya yang sama adalah beragam baik dalam besarnya, tujuan, pekerjaan dan kesukaan. Akan menjadi mengejutkan bila menemukan aturan manajemen yang dapat diterapkan secara universal yang berhasil dalam semua situasi. Tapi tentulah dapat dikatakan bahwa metode pengelolaan tergantung pada situasi dan dapat dikatakan juga apa situasi tersebut. Nilai utama dari pendekatan kontingensi adalah menekankan bahwa tidak ada aturan yang sederhana atau universal yang dapat diikuti oleh manajer.

Variabel kontingensi yang populer:
1.    Besarnya organisasi
2.    Kerutinan dari tugas teknologi
3.    Ketidak pastian lingkungan
4.    Perbedaan individu

2.8 Kecenderungan dan Masalah Terkini
            Disini kita memperkenalkan sejumlah kecenderungan dan masalah yang kita yakin sedang mengubah cara para manajer melaksanakan pekerjaan mereka, antara lain:
      Globalisasi
      Keragaman angkatan kerja
      Kewirausahaan
      Pengelolaan di dunia e-bisnis
      Kebutuhan akan inovasi dan flexibilitas
      Manajemen mutu
      Organisasi pembelajaran
      Manajemen Pengetahuan
      Spiritualitas tempat kerja
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sebagai kesimpulan berdasarkan penjabaran materi di atas, bahwa manajemen Secara keilmuan, manajemen baru terumuskan kurang lebih di abad 18 atau awal abad 19 Masehi.

Perkembangan teori manajemen dimulai dari teori manajemen klasik dengan pemikiran manajemen ilmiah dari Taylor dan teori organisasi klasik dari Mayo. Manajemen ilmiah menekankan pada upaya menemukan metode terbaik untuk melakukan tugas manajemen secara ilmiah. Sedangkan teori organisasi klasik menekankan pada kebutuhan mengelola organisasi yang kompleks yang mefokuskan pada upaya menetapkan dan menerapkan prinsip dan ketrampilan yang mendasari manajemen yang efektif .

perkembangan yang memberik focus yang sangat berbeda dari teori manajemen klasik disebut teori manajemen neoklasik yang ditandai dengan perubahan fokus manajemen yang lebih menekankan pada perilaku baik pada perilaku manusia maupun perilaku organisasi. Manajemen yang baik menurut teori neo klasik ini adalah manajemen yang mefokuskan diri pada pengelolaan staf secara efektif yang didasari akan pemahaman yang mendalam dari segi sosiologis maupun psikologis.

Perkembangan selanjutnya yaitu dengan menekankan pendekatan sistem yang dipersatukan dan diarahkan dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang saling berkaitan. Namun saat ini penerapan manajemen didasarkan pada pendekatan kontingensi yang memadukan antara aliran ilmiah dengan perilaku dalam suatu sistem yang diterapkan menurut situasi dan lingkungan yang dihadapi.




DAFTAR PUSTAKA

2 komentar:

  1. Thanks for providing such a great article, it was excellent and very informative.
    as a first time visitor to your blog I am very impressed.
    Economics :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ofcourse, your welcome :) thanks for reading our article

      Hapus